Sabtu, 17 Mei 2014

Kisah Kasih Dimalam Hari


Selamat malam.
Aku tahu mungkin di tempat kalian saat membaca ini sedang sore, siang, atau boleh jadi pagi hari. Di tempat ku saat menuliskan kisah ini pukul 20.30 wib. (inspirasi novel sunset bersama rosie)

assalamu’alaikum, apa kabar ?” itu pesan singkat yang ku kirimkan kepadanya di suatu malam.

Tak berapa lama muncul pesan balasan yang berisi “wa’alaikumsalam, kabar baik
balasan yang tak kalah singkat.

sibuk apa ?” balas ku

sibuk membenahi hidup, menata masa depan, merajut kembali asa yang sempat putus, bahkan melunasi hutang, setelah hampir satu tahun lebih aku menjadi freeman alias pengangguran.”

Aku tersenyum membaca pesannya, bukan karena ia membalasnya lebih panjang, tapi karena isinya. Lama, lama sekali ia tak menceritakan kehidupannya pada ku.

membenahi hidup ? menata impian ? good luck for you. Allah always with you. Oiya, melunasi hutang ?” Tanya ku penasaran

iiya, hutang. Hutang yang lebih dari 10 juta”

“waw ? kok bisa ? boleh tahu ceritanya gimana ?” selidikku

ceritanya ? ceritanya teramat panjang untuk diceritakan kepada mu.”

“oh gitu.”

“oiyaa, aku boleh menanyakan satu pertanyaan ?”

“hanya satu !”

“apa kita pernah punya janji untuk menikah ? santai aja jawabnya”

Hening. Seketika semuanya hening. Hanya terdengar suara daun yang bergesekkan dengan daun lainnya. Bisa dikatakan aku speechless membaca pesan itu. Aku tidak pernah mengira ia akan membicarakan tentang itu. Lama. Cukup lama hingga aku berani membalas pesan tersebut.

kita ? kita siapa ? menikah ? saya belum kepikiran tentang hal itu” balasan yang tidak masuk akal memang.

emmm, aku Cuma mau bilang, aku udah nikah

Jleeeeb. Pesan itu menghujam jantungku. Menusuk tepat di hati. Di hati yang paling dalam. Hening. Senyap. Tak ada suara. Semua berubah sepi. Kalau boleh jujur, gemetar tangan ini saat menggenggam handphone, kelu lidah ini saat mencoba membaca pesan itu.

Aku hampir tak percaya membaca pesan itu. Tak terasa mata ini sudah terasa perih. Namun entah ada keangkuhan seperti apa hingga akhirnya air mata ini tak ingin menetes. Perlahan aku mengirim balasan

“menikah ? wah ga seru nih ga ngasih undangan” sok tegar balasku.

aku menikah satu hari sebelum kamu sidang proposal untuk skripsi” balasan yang mengjutkan.

Ya Rabb,, satu hari sebelum aku sidang proposal untuk skripsi ? sungguh, sungguh Engkau teramat baik pada ku. Dua minggu setelah itu aku baru mengetahuinya. Ini hal yang memang harus sangat aku syukuri.

“Baarakallaahu laka, wabaaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fi khairin. Amin”

Hanya itu yang mampu aku balas. Ku kira ia tak akan mengirim balasan lagi, tapi ternyata

“amiin.. jazakillah ya, oiya ngomong-ngomong kapan kamu nikah ?” just making conversation.

Setelah kamu menghancurkan impianku untuk dapat mengarungi biduk rumah tangga bersamamu lantas Kamu bertanya kapan aku nikah ?? bullshit !!!. tidak. Aku tidak membalasnya seperti itu. Itu hanya cacian ku dalam hati.

“nikah ? aku tidak mau memikirkan hal itu, oiya boleh tau siapa istrinya ?” aku sadar ini pertanyan yang salah.

“namanya Aida Syifani, alumni pondok pesantren almuttaqin jombang.”

Aida Syifani. Ia pencuri hatinya. Benar-benar telah mencuri hatinya. Meluluhkan perasaannya. Apa aku menyesal setelah mengirim sms kepadanya malam itu ? tidak. Sungguh aku tidak menyesal. Karena mengirim sms atau tidak aku akan tetap tau kalau dia sudah menikah.

Setelah aku berhasil berdamai dengan peristiwa empat tahun yang lalu, berdamai dengan perasaan itu, berdamai dengan waktu, dan ketika aku merasa telah benar-benar berdamai dengan segalanya, kau hadir membuat puing-puing kenangan yang sudah tersimpan rapi itu tercungkil kembali. Berantakan. Berserakan. Tak berbentuk. Bahkan kau hadir dengan menggoreskan luka yang lain. Kau membuat luka itu semakin menganga.

Bukan. Sungguh bukan salahmu. Aku mengerti dan aku tau itu semua salahku. Salahku yang membiarkan kau pergi empat tahun silam. Salahku yang melepaskan mu empat tahun silam. Dan memang salah ku yang tak memperdulikanmu selama empat tahun itu. Empat tahun ? itu cukup membuatmu tersiksa, membuatmu tak berdaya. Empat tahun bahkan terlalu kejam aku telah menyiksamu. Dan dengan menikahnya kamu dengan gadis itu adalah pilihan yang tepat. Berarti gadis itu telah bisa menghapus luka itu. Gadis itu telah mampu mengembalikan keceriaan itu. Sementara aku ?? aaaaah abaikan sajalah aku. Kini aku hanya tersudut menunggu mati.

Dalam fase kehilangan, aku masih berada di tahap pengingkaran (denial). Pengikaran yang malah menyakitkan. Percuma aku mengingkari ini. Toh memang ini kenyataannya. Dan akhirnya aku berada di fase tawar-menawar (bergaining). Tawar menawar tentang keadaan. Kenapa bukan aku ? kenapa harus dia ? kenapa seperti ini ? mana janjinya ? janji apa ? aah itu semua pertanyaan yang tak perlu dijawab. Percuma !!!

Kini saatnya aku yang harus menata hati, menatap masa depan, menjemput janji-janji kehidupan yang lebih baik. Jika TEGAR dalam tokoh “sunset bersama Rosie” membutuhkan waktu enam tahun untuk dapat berdamai dengan perasaan, bagaimana dengan ku ? butuh berapa lama aku berdamai dengan perasaann ini ? berdamai dengan keadaan ini ?

Aaah biarlah, biarlah waktu yang menghabisi kesedihan ini. Waktu yang akan berbaik hati untuk mendamaikan hati dan perasaan ini. Waktu yang akan berbaik hati memperbaiki segalanya.

aku tidak ingin membuat luka itu semakin besar. Aku tidak akan pernah memilikimu. Jadi kumohon, biarkan aku melanjutkan kehidupan. Menjejak janji-janji baru. Jangan pernah lagi menghubungi. Itu hanya akan menambah luka…”

-Sepotong percakapan Sekar dan Tegar dalam novel Sunset Bersama Rosie-

Nb : cerita di atas bisa fiktif dan bisa juga nyata. Tergantung kalian memahaminya. Jika ada kesamaan apapun, itu adalah unsure kesengajaan. Jujur itu sengaja. !!!

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda