Kisah Kasih Dimalam Hari
Selamat malam.
Aku tahu mungkin di tempat kalian saat membaca ini sedang
sore, siang, atau boleh jadi pagi hari. Di tempat ku saat menuliskan kisah ini
pukul 20.30 wib. (inspirasi novel sunset
bersama rosie)
“assalamu’alaikum, apa
kabar ?” itu pesan singkat yang ku kirimkan kepadanya di suatu malam.
Tak berapa lama muncul pesan balasan yang berisi “wa’alaikumsalam, kabar baik”
balasan yang tak kalah singkat.
“sibuk apa ?”
balas ku
“sibuk membenahi
hidup, menata masa depan, merajut kembali asa yang sempat putus, bahkan
melunasi hutang, setelah hampir satu tahun lebih aku menjadi freeman alias
pengangguran.”
Aku tersenyum membaca pesannya, bukan karena ia membalasnya
lebih panjang, tapi karena isinya. Lama, lama sekali ia tak menceritakan
kehidupannya pada ku.
“membenahi hidup ?
menata impian ? good luck for you. Allah always with you. Oiya, melunasi hutang
?” Tanya ku penasaran
“iiya, hutang. Hutang
yang lebih dari 10 juta”
“waw ? kok bisa ?
boleh tahu ceritanya gimana ?” selidikku
“ceritanya ? ceritanya
teramat panjang untuk diceritakan kepada mu.”
“oh gitu.”
“oiyaa, aku boleh
menanyakan satu pertanyaan ?”
“hanya satu !”
“apa kita pernah punya
janji untuk menikah ? santai aja jawabnya”
Hening. Seketika semuanya hening. Hanya terdengar suara daun
yang bergesekkan dengan daun lainnya. Bisa dikatakan aku speechless membaca
pesan itu. Aku tidak pernah mengira ia akan membicarakan tentang itu. Lama.
Cukup lama hingga aku berani membalas pesan tersebut.
“kita ? kita siapa ?
menikah ? saya belum kepikiran tentang hal itu” balasan yang tidak masuk
akal memang.
“emmm, aku Cuma mau
bilang, aku udah nikah”
Jleeeeb. Pesan itu menghujam jantungku. Menusuk tepat di
hati. Di hati yang paling dalam. Hening. Senyap. Tak ada suara. Semua berubah
sepi. Kalau boleh jujur, gemetar tangan ini saat menggenggam handphone, kelu
lidah ini saat mencoba membaca pesan itu.
Aku hampir tak percaya membaca pesan itu. Tak terasa mata
ini sudah terasa perih. Namun entah ada keangkuhan seperti apa hingga akhirnya
air mata ini tak ingin menetes. Perlahan aku mengirim balasan
“menikah ? wah ga seru
nih ga ngasih undangan” sok tegar balasku.
“aku menikah satu hari
sebelum kamu sidang proposal untuk skripsi” balasan yang mengjutkan.
Ya Rabb,, satu hari sebelum aku sidang proposal untuk
skripsi ? sungguh, sungguh Engkau teramat baik pada ku. Dua minggu setelah itu
aku baru mengetahuinya. Ini hal yang memang harus sangat aku syukuri.
“Baarakallaahu laka,
wabaaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fi khairin. Amin”
Hanya itu yang mampu aku balas. Ku kira ia tak akan mengirim
balasan lagi, tapi ternyata
“amiin.. jazakillah
ya, oiya ngomong-ngomong kapan kamu nikah ?” just making conversation.
Setelah kamu menghancurkan impianku untuk dapat mengarungi
biduk rumah tangga bersamamu lantas Kamu bertanya kapan aku nikah ?? bullshit
!!!. tidak. Aku tidak membalasnya seperti itu. Itu hanya cacian ku dalam hati.
“nikah ? aku tidak mau
memikirkan hal itu, oiya boleh tau siapa istrinya ?” aku sadar ini
pertanyan yang salah.
“namanya Aida Syifani,
alumni pondok pesantren almuttaqin jombang.”
Aida Syifani. Ia pencuri hatinya. Benar-benar telah mencuri
hatinya. Meluluhkan perasaannya. Apa aku menyesal setelah mengirim sms
kepadanya malam itu ? tidak. Sungguh aku tidak menyesal. Karena mengirim sms
atau tidak aku akan tetap tau kalau dia sudah menikah.
Setelah aku berhasil berdamai dengan peristiwa empat tahun
yang lalu, berdamai dengan perasaan itu, berdamai dengan waktu, dan ketika aku
merasa telah benar-benar berdamai dengan segalanya, kau hadir membuat
puing-puing kenangan yang sudah tersimpan rapi itu tercungkil kembali.
Berantakan. Berserakan. Tak berbentuk. Bahkan kau hadir dengan menggoreskan
luka yang lain. Kau membuat luka itu semakin menganga.
Bukan. Sungguh bukan salahmu. Aku mengerti dan aku tau itu
semua salahku. Salahku yang membiarkan kau pergi empat tahun silam. Salahku
yang melepaskan mu empat tahun silam. Dan memang salah ku yang tak
memperdulikanmu selama empat tahun itu. Empat tahun ? itu cukup membuatmu
tersiksa, membuatmu tak berdaya. Empat tahun bahkan terlalu kejam aku telah
menyiksamu. Dan dengan menikahnya kamu dengan gadis itu adalah pilihan yang
tepat. Berarti gadis itu telah bisa menghapus luka itu. Gadis itu telah mampu
mengembalikan keceriaan itu. Sementara aku ?? aaaaah abaikan sajalah aku. Kini
aku hanya tersudut menunggu mati.
Dalam fase kehilangan, aku masih berada di tahap
pengingkaran (denial). Pengikaran yang malah menyakitkan. Percuma aku
mengingkari ini. Toh memang ini kenyataannya. Dan akhirnya aku berada di fase
tawar-menawar (bergaining). Tawar menawar tentang keadaan. Kenapa bukan aku ?
kenapa harus dia ? kenapa seperti ini ? mana janjinya ? janji apa ? aah itu
semua pertanyaan yang tak perlu dijawab. Percuma !!!
Kini saatnya aku yang harus menata hati, menatap masa depan,
menjemput janji-janji kehidupan yang lebih baik. Jika TEGAR dalam tokoh “sunset bersama Rosie” membutuhkan waktu
enam tahun untuk dapat berdamai dengan perasaan, bagaimana dengan ku ? butuh
berapa lama aku berdamai dengan perasaann ini ? berdamai dengan keadaan ini ?
Aaah biarlah, biarlah waktu yang menghabisi kesedihan ini.
Waktu yang akan berbaik hati untuk mendamaikan hati dan perasaan ini. Waktu
yang akan berbaik hati memperbaiki segalanya.
“aku tidak ingin
membuat luka itu semakin besar. Aku tidak akan pernah memilikimu. Jadi kumohon,
biarkan aku melanjutkan kehidupan. Menjejak janji-janji baru. Jangan pernah
lagi menghubungi. Itu hanya akan menambah luka…”
-Sepotong percakapan Sekar dan Tegar dalam novel Sunset
Bersama Rosie-
Nb : cerita di
atas bisa fiktif dan bisa juga nyata. Tergantung kalian memahaminya. Jika ada
kesamaan apapun, itu adalah unsure kesengajaan. Jujur itu sengaja. !!!
